Pamer Perut dan Pipi
30.12.2007 von admin.
Memenuhi permintaan Audriel, aku pasang deh fotoku dalam keadaan lumayan ‘bengkak’.
Berat badan di minggu kehamilan ke-22 ini sudah dengan suksesnya bertengger di angka 61,2 kg (eh, tapi body fat nggak nambah, lho! Hihihi, mencari pembenaran diri). Baca di buku sih, penambahan itu normal. Malah di kasusku sih agak defisit (padahal makannya lahap). Konon, minggu ke-21 sudah wajar dapat hadiah 5 kg tambahan, lalu setiap minggunya bertambah 400 gram. *lirik bab “Sechster Monat”*
Menurut Micha sih, yang ngegedein itu cuma perut, sedikit di bokong, lumayan di dada, dan tentunya di pipi (yang terakhir ini sih menurutku). Kalau dilihat dari belakang sih nggak kelihatan hamilnya, malah dari depan aja masih banyak yang nggak percaya kalau aku lagi hamil (karena memang pakai sweater, hahaha). Aku aja sempat berpikir kalau aku masih bisa lah pakai rok yang tahun lalu itu agak kedodoran. Eh, ternyata Baby nggak mau diajak kerjasama, rok itu mentok dan nggak bisa dikancing. Micha yang lihat langsung ngakak, hihihi.
Ah ya udah deh, ini foto aku yang terbaru, bersama sepiring cumi panggang plus spaghetti yang enaaaak banget (sayang, saladnya nggak kepotret).
Geschrieben in Allgemein | 3 Kommentare »
The Upcoming 2008
30.12.2007 von admin.
Tugas kali ini dapat dari dua orang sekaligus, Ambu dan Jeng Ina. Tapi kayaknya enak ya, dapat tugas yang sama dari beberapa orang (masih mending lah, daripada dapat tugas yang berbeda-beda, hehehe).
Intinya, harus bikin resolusi hidup untuk tahun 2008. Not really for me, karena aku bukan tipe orang yang hobi bikin resolusi. Kalaupun bikin, biasanya langsung dilupakan, hehehe. Eniwei, mulai, yuk!
Peraturannya:
1.Bikin 8 Resolusi hidup kamu untuk 2008 (WAJIB 8 - ga kurang ga lebih-)
2.Sebarkan ke 8 orang, yang kamu tunjuk.
3.Kamu mesti mampir ke 8 orang tsb, utk ngasih tau bahwa mereka dapet PR dari kamu.
Hmmm…
Resolusi #1: Pembagian Waktu
Aku tipe orang yang “bersenang-senang sekarang dan selamanya”. Selalu nunggu kepepet banget deh, baru mau mengerjakan sesuatu. Aku berharap aku bisa lebih menekan rasa malasku sehingga bisa membagi waktu dengan baik.
Resolusi #2: Lebih Rajin
Aku ini malasnya ampun-ampunan. Makanya pas dapat hadiah Natal dari Micha, aku langsung nangis…berpikir, apa yang sudah aku lakukan untuk hadiah ini? Aku malas beresin rumah, aku malas bersihin rumah, aku selalu nunggu cucian bersih numpuk dulu sebelum akhirnya aku setrika…
Resolusi #3: Lebih Sensitif
Terkadang, aku cueknya setengah mati. Bisa berbulan-bulan aku ‘menghilang’, sampai akhirnya teman-temanku yang menghubungiku terlebih dulu. Aku ingin tahun ini aku bisa lebih sensitif dalam hubungan sosialku.
Resolusi #4: Outgoing
Kalau lagi malas, wah…susah deh buat diajak keluar. Terkait sama nomor 3, biasanya teman-temanku yang harus ke kotaku, baru deh ketemuan. Nggak pernah aku yang mendatangi kota mereka, kecuali kalau Micha nemenin. Alangkah indahnya kalau aku, suatu saat di musim panas mendatang, berada di Ulm dan bertemu dengan beberapa orang temanku di sana… Girls’ Day Out, atau semacamnya.
Resolusi #5: Olah raga
Ya, ya, udah lama banget aku nggak olah raga lagi. Aku terbuai dengan badanku yang biarpun makannya kalap tapi nggak melar-melar. Tapi itu kan bukan alasan nggak berolahraga? Eh iya kan? *mencoba untuk menawar resolusi sendiri*
Resolusi #6: Lebih centil
Kalau mamaku jadi ngunjungin kami, kayaknya beliau bakal ngamuk berat deh, karena aku nggak merawat diri. Nggak ada yang namanya maskeran, luluran, manikur, dsb. Pokoknya, aku sih cuma melakukan yang basic aja, kayak mandi, keramas, potong kuku, cuci muka. Pakai body lotion, krim muka, dan krim mata aja bolong-bolong, sehari pakai…seminggu nggak. Mungkin juga karena udah merasa cantik dari sananya, ya, ahahaha… *digetok*
Resolusi #7: Lebih Konsisten
Terutama dalam melatih kembali jari-jariku yang kaku di atas tuts piano / keyboard. Masalahnya, aku nggak sabaran. Ini yang aku mau ubah. Nanti kalau mama ke Jerman, aku mau titip buku-buku pianoku yang di Bandung.
Resolusi #8: Family Woman
Yang satu ini susah juga ya untuk dicapai. Aku ingin jadi istri yang baik (tapi standarnya apa ya?), dan juga…aku ingin belajar jadi ibu yang baik buat Baby.
Ah, selesai juga! Lempar lagi ke mana ya? ![]()
1. Trinie (hahaha! Sekarang kamu kena!)
2. Bundhoot
3. Zeventina lagi (biar ada break dari latihan nyanyi, hehehe)
4. Ardho
5. Marlina
6. Jeff
7. Desi
8. Audriel.
Geschrieben in Allgemein | 1 Kommentar »
Selamatkan Bumi!
18.12.2007 von admin.
Dapat pe-er dari Ambu, nih. Pertanyaannya adalah “Apa yang sudah kamu lakukan untuk menyelamatkan bumi kita?”
Wah, bingung juga. Perasaan sih nggak banyak dan semuanya biasa-biasa aja. Tapi dicoba, deh.
1. Listrik di rumah pakai listrik yang ramah lingkungan (alias dapat dari sumber daya alam). Sedikit lebih mahal, tapi ke depannya lebih baik. Katanya sih, listrik jenis ini akan semakin murah kalau pelanggannya makin banyak, jadi…ayo, beralih lah!
2. Hampir semua lampu di rumah adalah lampu hemat energi.
Kenapa nggak semua lampu? Ya karena kami butuh juga lampu yang terang buat baca, hehehe. Daripada mata kami berdua makin minus?
3. Di rumah, aku paling hobby nyabut charger. Micha kadang suka lupa ninggalin charger tercolok begitu aja, kadang malah sama hape-nya, padahal baterenya udah penuh.
4. Selalu matiin komputer kalau memang sudah nggak dipergunakan. Begitu juga dengan monitor, yang pasti aku matikan setiap aku tinggal pergi (walaupun hanya untuk masak).
5. Mengikuti peraturan pemerintah tentang pemisahan sampah untuk mempermudah proses daur ulang.
6. Jarang-jarang beli kantong plastik di supermarket. Hampir selalu bawa dari rumah dan pakai kantong plastik yang memang sudah ada di rumah.
7. Saat menjalankan mesin pencuci piring, hampir selalu memilih menu yang ramah lingkungan.
8. Begitu juga dengan mesin pencuci baju. :-p
9. Biarpun sama-sama nggak telatennya kayak Ambu dalam mengurus tanaman, tapi di rumah selalu ada tanaman. Bedanya dari Ambu, kami nggak ada duit buat nyuruh orang ngurus tanaman itu, jadi mau nggak mau ya ngurus sendiri, hihihi.
10. Selalu berusaha untuk membeli barang yang bisa didaur ulang, atau yang Bio (tanpa bahan kimia), kecuali kalau kepepet (pas akhir bulan atau kapan pun pas cekak), hehehe.
Ah, akhirnya selesai juga! Dan masih nunggu pe-er yang lainnya.
Aku lempar ke…
1. Bunda
2. Dian Ina
3. Henny
4. Tina
5. bLub
6. Golda
7. Drg. Rara
8. Marlina
9. mBu
10. nJes.
Geschrieben in Allgemein | 4 Kommentare »
Kok Baru Sekarang?
25.10.2007 von admin.
Buatku, menyimpan berita gembira itu sulit banget. Sampai sejauh ini, baru akhirnya mengumumkan kehadirannya secara terbuka, itu sebuah perjuangan berat, hehehe.
Kenapa harus menunggu? Karena kami ingin “aman”. Kehamilan di bawah tiga bulan lumayan riskan, makanya kami menunggu sampai akhir trimester pertama ini, dan juga pendapat dokter yang menyatakan Baby dalam keadaan baik-baik saja. Doain ya, supaya Baby bisa lahir dengan selamat dan sehat.
Aku bisa dibilang agak khawatir sih, apalagi karena saat kami belum tahu kalau aku mengandung, aku sempat-sempatnya jatuh dari sepeda. Ditambah lagi nyokapku kan termasuk orang yang parno (maaf ya, Ma, tapi memang gitu kok, hihihi. Eh iya, jangan ngambek ya, paket tetap dikirim ya… *dijitak*), suka cerita pengalaman-pengalaman buruk teman-temannya gitu.
Ya intinya, Baby ini merupakan sebuah kejutan. Saat terakhir main ke rumah Susi pun, awal bulan September kemarin, aku masih belum nyadar. Makanya pas ditanya kapan punya bayi, aku jawabnya pun dengan becanda (sambil sebal), “Masih latihan.”
Walaupun Micha udah dari akhir bulan Agustus curiga, tapi aku nggak. Sempat bingung sih sama kondisi tubuhku yang ‘beda’. Sempat kros cek ke Dian Ina tentang PMS, dan hasilnya ya aku yakin kalau aku ini kena PMS.
Curiga lagi pas tiap pagi kok mual… Hoek-hoek gitu. Tapi kirain ya masuk angin. Sempat kepikiran juga ini kelanjutan flu pertengahan bulan Agustus. Pas mualnya nggak sembuh-sembuh, malah kena maag pula tiap malam, akhirnya aku memutuskan untuk cek pakai Sensitif kiriman nyokap. Kata Golda sih, Sensitif bisa mendeteksi kehamilan sejak 1 minggu setelah pembuahan. Hasilnya…negatif.
Micha sempat nuduh kalau Sensitif nggak oke, apalagi pas tahu aku bahkan udah nyoba dua (pada pagi yang berbeda, tentunya), sampai akhirnya dia maksa aku untuk ke dokter. Pertama, bikin janji ke dokter umum, lalu dua hari kemudian ke dokter kandungan karena perut bawahku juga rasanya aneh.
Dari dokter umum, hasil darahku nggak menunjukkan hal-hal yang mencurigakan.
Tepat satu hari setelah Micha ultah, aku pun pergi ke dokter kandungan dan dinyatakan positif. Wah, nggak nyangka banget. Sempat linglung, walaupun nggak sampai jadi profesor (halah!). Sempat bingung juga. Tapi kami sangat bahagia, begitu juga dengan para ortu dan anggota keluarga besar kami, dan beberapa orang terdekat kami.
Syukur juga…aku nggak merasakan morning sickness yang dahsyat. Cuma hoek-hoek aja, itu pun masih tertahankan lah. Muntah pun sangat jarang, dan nggak pernah ada isinya (bayinya ogah kali ya, makanan jatah dia terbuang percuma, hihihi).
Perubahan sih udah pasti ada. Timbanganku udah naik 3,3 kg, sebagai contohnya (tapi kata dokter masih masuk BMI normal, jadi nggak perlu khawatir). Udah mulai suka ngembat T-shirt-nya Micha. Perut juga udah buncit membesar. Aku yang tadinya gila sama sosis dan segala macam ham gitu, mendadak jadi nggak suka. Dan yang paling parah, aku BENCI BANGET sama…err…salah satu bumbu masak. Tapi kata Micha sih…aku tambah cantik, hahaha.
Eh iya, aku juga jadi mudah banget nangis. Dengerin lagu yang romantis atau sedih dikit aja udah langsung sesegukan.
Yang terindah dari semuanya…adalah saat kami melihat betapa cepatnya Baby berkembang. Dari foto pertama yang hanya tampak kantongnya aja (pas 5 minggu), lalu tampak seperti kacang (7 minggu), dan kemudian hingga terlihat begitu luar biasa. Kami cuma bisa bersyukur kepada Tuhan, dan Baby membuat kami semakin tersadar akan kuasa dan hebatnya Ia…
Geschrieben in Allgemein | 21 Kommentare »
Sukie das Handy.
14.8.2007 von admin.
Ini dapat timpukan dari Ambu. *elus-elus kepala*
Sebagai teman yang baik, imut, lucu, manis, tentunya saya nggak tega untuk membiarkan lemparan Ambu meleset…
10 Hal tentang Sukie:
- Sukie adalah ponselku yang ke…eh, entahlah. Tapi yang pasti, bukan yang pertama dan juga sepertinya bukan yang terakhir. Sebuah T610 warna merah bercampur hitam, warna kesukaanku. Belinya tanggal 4 September 2003, nggak sengaja barengan sama ultahnya suami
- Kebetulan sudah bisa 3 G, walaupun jarang sekali dipergunakan. Terakhir nyoba ngirim lagu ke handy-nya mertua, tapi gagal. Terakhir motret…entah kapan. Terakhir GPRS juga saat masih di Indonesia (itu kalau ngikutin standar 3G a la Ambu, hihihi)
- Wallpaper-nya masih belum diganti. Masih foto dari fotobox di Ciwalk bar
eng suami (waktu itu statusnya masih pacar, hehehe). Pas lihat wallpaper-nya Ambu, langsung pengen ganti yang sama sih, tapi entah kenapa…rasanya males. Lagian, yang sekarang juga udah cakep kok, warnanya pas sama ponselnya, hehehe - Nomornya sama sekali nggak cantik, lha orang nggak bisa milih. Baru tahu nomor juga setelah dibeli. Jadi benar-benar dirahasiakan gitu deh. Mungkin nanti kalau ganti ponsel, sekalian pindah ke Base aja deh (masih di provider yang sama) dan minta nomor yang mirip sama nomor Micha, biar gampang ingat karena cuma nambah satu angka dari nomor telepon rumah (sampai sekarang, aku nggak ingat nomorku sendiri!)
- Yang terakhir SMS: Bunda Dian, yang ngabarin tentang gempa. Hihihi, lama banget ya? Nggak ada yang niat sms aku sih… *curhat colongan*
- Spesifikasi? Aduh, males banget deh. Coba tolong di-google saja.
- Hampir selalu menyala. Kecuali kalau kehabisan batere, tentunya. Tapi selalu banyak sms yang telat dibaca dan juga panggilan tak terjawab. Bukannya sombong, tapi saya memang nggak suka nenteng ponsel ke mana-mana (kecuali saat Micha sedang ke luar kota atau ke luar negeri), jadi ya biasanya ninggalin ponsel entah di mana
- Sukanya ditaruh di tas, karena err…lebih suka tangannya si Cinta ada di saku belakang celana, hihihi. *centil*
Parahnya, sering lupa mindahin ke tas yang lain, atau mengeluarkannya dari tas. Kalau lagi nggak di dalam tas, biasanya tergeletak di meja. Tapi entah di meja yang mana. Kalau nggak di meja ruang makan, ya di meja ruang tengah, atau di meja tulis di kamar tamu - Kalau sepi-sepi aja, batere bisa tahan nyaris 1 minggu. Sudah dibuktikan saat perjalanan dari Austria ke Swiss, padahal naik gunung segala (baterenya jadi cepat habis karena pengaruh sinyal yang wajib dicari-cari, bukan karena aku nyuruh ponselku jalan sendiri. Aku nggak setega itu terhadap Sukie!)
- Sama seperti Ambu, saya suka nyatet hal-hal penting di Unsent. Jadinya ya suka penuh deh, walaupun udah gitu sih biasanya aku pindahin ke folder yang lebih aman, hehehe. Itu lho, yang pakai password segala. Iya, si Sukie biarpun udah tua, tapi udah lumayan canggih. Aku juga suka banget nyimpan sms-sms ‘manis’.
Ah, udah 10!
Sekarang saya harus nimpuk lagi ya? Err, siapa ya?
Nimpuk Micha, percuma aja karena dia nggak doyan hal ginian (lagian juga aku bisa deh jawabin buat dia). Lagian ke suami sendiri kan nggak boleh nimpuk ya? *usap-usap*
Err…ya sudahlah, saya nimpuk yang namanya tercantum di atas: Bunda Dian. Ditambah lagi: Ron, Adis, dan Jeffry.
Lalu…enam kali, aku balas nimpuk Ambu. Hihihi…
*kabur*
Geschrieben in Allgemein | 4 Kommentare »
Ke München ah…
21.5.2007 von admin.
Kamis tanggal 10 kemarin, pagi-pagi Micha udah berangkat ke München buat dua hari. Aku sih udah siap mental semalam tanpa dia, orang udah ‘latihan’ seminggu sebelumnya, pas dia dua malam kemping bareng teman-teman cowoknya.
Jam 3 sorean, dia nelepon. Dia nanya gitu, aku mau dibeliin kue apa. Lah, aku jelas bingung lah, ngapain nanya orang kita jauhan gitu. Eh, ternyata dia nekad pulang dan dalam tempo setengah jam udah sampai rumah, katanya. Lho? Lho?
Pas sampai rumah, dia pun langsung minta aku masukkin baju-bajuku dan perlengkapanku ke tas karena dia mau aku ikut ke München. Kangen istri, kali ya? Akhirnya ya setelah dia berpuas diri bersantai sebentar di sofa baru kami yang warnanya merah itu, kami pun berangkat ke München.
Begitu transfer kamar (dari perusahaan kan dia dibayarinnya kamar single, ya karena dia mau bininya ikut ya apgret lah ke kamar double, cuma nambah 30 € untungnya), kami pun langsung naik S-Bahn buat ketemuan sama dua orang rekan kerjanya di pusat kota.
Kami pun pergi makan malam di sebuah restoran tua (tapi modern dan rame banget). Dibangunnya tuh tahun 1829, para pelayannya pakai baju khas daerah Bayer gitu: Dirndl. Sempat kepikir sih, buat kerja di situ biar aku bisa pakai Dirndl gratis, mengingat kalau beli ya harganya mahal.
![]()
Di restoran ini disediakan peta kota dan kartu pos gratis. Bisa ditebak dong, aku udah pasti ngambil, hehehe.
Habis puas makan, kami pergi jalan-jalan di pusat kota. Sekitar jam 9 malam gitu, tapi hari masih cukup terang, walaupun banyak toko yang sudah tutup. Tapi jalanannya masih tetap ramai sama orang yang hilir-mudik. Banyak juga musisi jalanan, Micha malah sempat beli 1 CD blues tapi dengan bahasa Bayer yang alamak aneh itu. Musisinya bernama DD Beck, udah tua sih, tapi eksentrik dan main gitarnya memang jago. Untungnya jalan bareng cowok, mereka bisa makan terus, jadinya ya sambil jalan, masih sempat-sempatnya ngemil es krim Häagen-Dazs, hehehe. Buset dah, tuh es krim harganya dua kali lipat dari es krim lokal, tapi memang enak sih…dan bikin ngantuk.
A Big Girl In A Big City
Setelah mengawali hari dengan sarapan yang luar biasa mengenyangkannya itu (ada salmon! Ada bacon! Wah, pokoknya lengkap banget deh), aku pun berpisah dari Micha. Dia dan para koleganya harus kerja, sementara aku dengan bekal tiket S-Bahn sehari penuh, ya keliling München seorang diri. Lumayan juga, aku mulai dari jam 08:30, jadi ya masih sepiiiii banget. Toko-toko juga masih belum pada buka, gereja juga masih belum dibuka buat umum (cuma buat misa doang).
Tapi ya itu, berbekal kamera dan peta kota gratisan, aku pun mulai jalan-jalan pelan. Mungkin gara-gara perlengkapan itu, aku dikira turis (lah, tampang aja udah Asia gitu, sok nggak merasa orang asing, hehehe) sampai dideketin sama cowok yang nyapa aku pakai Bahasa Inggris. Eits, sorry…aku jawab pakai Bahasa Indonesia Jerman dong, sampai dia kaget sendiri dan senang biarpun aku bilang bahwa aku nggak bisa bahasa daerah setempat (kecuali buat bilang “Nggak, aku nggak ngambil roti” dan “Daag!”). Langsung deh, dia pakai acara membajak aku pergi ke gereja kecil yang tadinya aku ragu buat masuk (mengingat aku udah berencana kunjungan wisata ke beberapa gereja lain yang lebih gede dan terkenal). Untungnya dia harus pergi ngantor, jadi dia cuma bisa sebentar aja nemenin aku keliling dan ngejelasin beberapa hal. Dia bisa nemenin lagi sih, katanya, tapi pas jam istirahat makan siang. Hmmm…no way lah. Biarpun aku bandel dan banyak orang bilang kalau aku ini tukang flirt, tapi kan aku tahu kalau di jari manisku udah terlingkar cincin dengan nama Micha. *wink-wink*
Jadi ya aku lagi-lagi sendirian. Tapi memang itu mauku. Aku merasa lebih senang untuk mengeksplor München sendirian. Bergandengan tangan dengan Micha tentunya lebih bagus, tapi tanpa itu opsi sendirian adalah yang paling oke.
Karena memang masih pada tutup (gereja St. Michael malah semua pintunya tertutup. Huh!), aku pun melancong belanja baju, hehehe. Lumayan deh, walaupun bisa beli di HDH, tapi kan tetap aja ada keasyikan tersendiri pas belanja di kota lain. Lagian kan sekalian buang waktu karena rencanaku, aku pengen nonton jam dengan boneka bergerak (kayak di Plaza Senayan itu, lho) yang ada di Neues Rathaus. Pertunjukan itu hanya ada pada jam 11, 12, dan 17 (kalau pas winter time sih cuma jam 12 doang).
Jam 11 kurang, aku udah balik ke jalan. Dan ya ampun…! Jalanan rame amat! Huhuhu! Gila aja, turis pada numplek. Parahnya, semua pada numplek di depan Neues Rathaus! Tadinya kupikir jam 11 itu aman, soalnya dari prospek turis yang aku baca, bakalan ada tur dalam kota dengan tujuan Rathaus itu pas jam 12. Tapi ya itu, aku nggak ingat kalau ada tur yang lainnya. Rese banget deh. Turis-turis Amerika dan Australia sih oke, tapi yang dari RRC itu lho. Gandengnya tiada tara. Aku sampai protes ke sepasang entah kekasih entah bukan. Lah, berdiri di belakangku, mereka berdua (berdiri bersebelahan) ngobrolnya keras banget, padahal kan aku mau merekam pas bonekanya bergerak. Males amat, punya rekaman tapi isinya suara mereka. Aku sengaja negur pakai Bahasa Jerman, biarpun mereka nggak ngerti juga yang penting kan kelihatan dari tampangku yang minta mereka kalau ngobrol mbok ya volumenya dikecilin, hehehe.
Anyway, keren lho, nggak kalah deh sama yang di PS. Jadi ingat, pas pengalaman di PS, teeny me sempat takjub sampai tak mampu berkata-kata. Sama Neues Rathaus ya nggak sampai segitunya, tapi tetap aja kagum, soalnya kan dibangunnya tahun 1920-an!
Setelah boneka berhenti berdansa, aku ngebut ke Gereja St. Peter, gereja tertua di München. Walaupun ditulis di dinding gereja bahwa gereja itu mulai dibangun di abad ke-12, tapi ada yang bilang mulai dibangunnya itu dari abad ke-11. Pas masuk gereja, pas ada misa. Karena merasa bakal mengganggu kalau aku ambil gambar (dan juga menghindari rasa bersalah karena nggak ikut misa), aku langsung pergi ke menara gereja. Katanya sih, dari menara ini kita bisa melihat pemandangan kota München. Dengan membayar 1,50 €, aku pun mulai menaiki menara tertinggi di München. Di tengah jalan sempat nyesal juga sih mengingat itu anak tangga tua dan kecil kayaknya kok nggak ada habis-habisnya. Tapi begitu sampai di atas, benar aja…indah! Wah, langsung bikin foto panorama deh, biar ntar Micha yang ngegabungin.
Tujuan berikutnya adalah Dallmayr, buat beliin suami tercintah cokelat isi champagne (tapi jadi tergoda buat beli manisan mangga, manisan cranberries, dan kacang macadamia berlapis cokelat buat diri sendiri, hehehe) plus teh buat Mutti. Wah, nggak nyangka, ternyata toko ini juga pusat wisata, kirain cuma di Bandung aja para turis nyerbu toko makanan.
Lapar, haus, dan capek. Kakiku pun melangkah ke Tokyo Sushi Bar. Wah, langsung ngampung deh. Maklum aja, seumur-umur di Jerman, baru sekali doang makan
sushi, pas di Stuttgart. Tapi kali ini, aku ambil menu all you can eat. Sebelnya, dijatah gitu, dihitungnya per jam! Tapi nggak apa-apa sih, tarifnya lumayan murah: 10,99 € per jam. Nyam-nyam-nyam sampai nggak kerasa aku udah ngabisin… Ah, itung sendiri deh!
Keinginan buat beli jus segar di pasar juga sirna, begitu lihat para turis berjubel di situ. Keinginan keliling museum mainan pun dibatalkan karena antriannya panjang banget. Para remaja Australia kayaknya nggak punya museum semacam ini di negaranya. Jadi ya…keliling tanpa tujuan yang jelas dan ‘nyasar’ ke berbagai tempat yang ternyata memang ada di peta, kayak National Theater, Schatzkammer, dll.
Pas lagi jalan-jalan gitu, sempat-sempatnya ada cowok lokal yang nawarin diri motret aku. Ya aku iyakan, maklum deh…kan
banci kamera belum ada foto aku di München selain satu buah yang diambil Micha malam sebelumnya. Nggak kerasa, udah jam 14:30. Aku pun ngebut ke stasiun S-Bahn karena Micha bilang kami harus pulang jam 15:30.
Hampir dua minggu udah berlalu. Yang ada sekarang cuma kenangan, kebokekan, dan juga lima helai kartu pos untuk dibagikan (lagi). Ada yang mau dikirimin kartu posnya?
Geschrieben in Allgemein | 14 Kommentare »
Geschützt: Sehari Tanpamu.
5.5.2007 von admin.
Geschrieben in Allgemein | Auch die Kommentare sind durch das Passwort geschützt.
Holiday Park
13.4.2007 von admin.
Hari Jumat Agung yang lalu (06.04.07), kami rame-rame pergi ke Holiday Park di Haßloch, nonton atraksi terbaru di sana, Laser Show yang proyek musiknya digarap Christian.
Ya selain nonton, tentunya buat main lah. Ini kan pertama kalinya selama aku di Jerman, pergi ke taman hiburan, hehehe. Itung-itung curi start dari Bunda Endhoot dan para Gajah lainnya yang berencana mau main ke TMII, hehehe.
Atraksi pertama yang Micha, aku, dan Ambrosi coba itu Free Fall. Keren, deh. Kami duduk, lalu dibawa ke ketinggian 70 meter, lalu ya dijatuhkan begitu saja, sampai 10 meter terakhir baru direm. Wah, karena kaki nggak menginjak apa pun, rasanya benar-benar gila. Tapi asyik! Itung-itung latihan buat terjun bebas dengan parasut, hehehe….
Selanjutnya ya nonton Laser Show. Judulnya “Amaceon”. Keren, lho! Ceritanya sih ya standar, tentang penciptaan bumi (nggak ada hubungannya sama agama, tapi lebih ke mother earth), tapi lasernya itu keren, dipadu dengan air beneran, keren! Ada kalanya aku berasa berenang di dalam lautan, ada kalanya berasa terbang dikelilingi awan. Dan musiknya juga oke dong! Bangga pas di kredit muncul nama Christian Vaida, plus juga nama kota kami tercinta, hihihi.
Karena kami bawa Silvian yang berusia 4 tahun, dan juga seorang bayi imut, jadi ya nggak terlalu bebas gitu deh buat keluyuran. Apalagi Silvian lumayan lengket ke aku, jadi ya sadar nggak sadar, mau nggak mau, ngasuh Silvi, hehehe. Plus juga keuangan terbatas, demi liburan ke Belanda. Jadi ya nggak jadi foto-foto pakai baju kuno (bayarnya mahal, 12,50 €).
Makan siang juga, Micha dan aku bawa bekal (sosis enak dari daging unggas, cocok deh buat oleh-oleh untuk Bunda, hihihi) sama roti. Ambrosi pesan Chinapfanne, yang katanya enak banget. Gyros-nya juga oke, menurut pengakuan Steffen sih. Silvi juga suka sama kentang gorengnya. Overall, makanannya oke, harga pun standar.
Terus ya main arung jeram. Steffen dipaksa ikut, walaupun dia benci banget sama yang namanya atraksi yang bikin jantung deg-degan (padahal dia nggak mengidap sakit jantung, ataupun hamil, hehehe). Lucu deh, begitu keciprat air dikiiit, dia langsung ngomel-ngomel dan nutupin celananya yang terkena percikan air, hahaha.
Atraksi selanjutnya ya naik roller coaster mini. Di Holiday Park ada dua macam roller coaster. Ada yang gede, dan ada yang mini. Berhubung yang gede itu 5,5 kali Gravitasi dan tingginya nggak kira-kira, plus kemiringannya juga nyaris 45° gitu, aku dan Micha mikir sejuta kali deh buat naik itu. Mungkin ntar-ntar deh, kalau bareng Deden.
Roller coaster mini aja udah asyik, cukup bikin teriak-teriak. Nggak tahu berapa kali Gravitasi, mungkin cuma 3 kali doang.
Ambrosi yang merasa nggak puas dengan roller coaster mini, nekad mencoba roller coaster yang gede. Hehehe, bisa diduga, dia kelenger. Nggak pingsan sih, tapi jalannya jadi nggak keruan, hehehe.
Atraksi terakhir yang aku dan Micha mainkan itu ya Teufelsfässer, di Dufan juga ada. Itu lho, yang kayak perahu kayu, terus mirip roller coaster, tapi juga basah-basahan sama air. Rame, dan juga tinggi pas jatuhnya. Tapi asyik. Ada juga foto otomatis, pas di terjunan pertama. Lumayan, kami beli sebagai cenderamata.
Nggak kerasa, udah sore lagi, jam 5. Harus segera berangkat supaya pulang ke rumah nggak terlalu malam. Overall, tiket rombongan seharga 19,50 € per orang itu worthed.
Ayo, para Gajah, main ke sini aja!
Geschrieben in Allgemein | 2 Kommentare »
Homesick
10.4.2007 von admin.
Akhirnya aku mengalaminya. Sangat parah.
Mungkin selama ini aku sudah merasakannya, namun aku pendam dalam-dalam, sampai akhirnya kemarin aku nggak bisa menahannya lagi.
Aku menangis, dan membuat suamiku pun nangis. Itu yang paling menyakitkan hatiku, melihatnya mengurung diri di kamar mandi, nangis, dan keluar dengan mata yang merah. Aku nggak ingat lagi apa yang sudah bibirku ucapkan, yang membuatnya merasa gagal membuatku bahagia.
Aku bahagia, mungkin nggak sepenuhnya. Tapi aku tahu, aku bahagia bersamanya. Dia adalah duniaku. Tapi di sisi lain, aku kehilangan duniaku yang dulu. Aku punya (bahkan membentuk) keluarga baru, sekaligus ‘kehilangan’ keluargaku. Aku mendapat beberapa teman baru, tapi aku ‘kehilangan’ teman-temanku.
Ini yang bagiku merupakan hal terberat. Tidak memiliki teman-teman yang pernah kumiliki. Ya, di sini aku punya cukup banyak teman (walau kebanyakan merupakan teman Micha), tapi aku tidak merasakan kehangatan dari mereka.
Kemarin aku benar-benar merasa out of group, saat beberapa teman main ke rumah untuk ber-BBQ. Aku merasa bahwa aku tidak seharusnya menjadi bagian dari mereka. Aku nggak merasa nyaman bersama mereka.
Aku ingin kembali bersama teman-temanku. Dengan mereka aku merasa nyaman, aku bisa menjadi diriku sepenuhnya. Aku bisa gila dengan cara yang mereka mengerti, tapi tidak dimengerti oleh teman-teman di sini.
Kemarin aku menangis di dapur, saat yang lain ada di teras. Di saat itu, aku merasa berada di titik terendah dalam hidupku. Aku ingin lari untuk pulang ke rumah Papa dan Mama. Aku ingin dipeluk mereka lagi. Aku ingin meringkuk dan menangis. Aku ingin mendengar candaan teman-temanku lagi.
Aku merasa begitu terpuruk dan sempat terpikir bagaimana mungkin aku dan Micha terus bersama, karena kami memilki dunia yang berbeda. Aku merasa tempatku bukan di sini, dan Micha pun tidak merasa kerasan di tempatku.
Aku benci diriku saat kata-kata itu terucapkan di depan suamiku. Ini kedua kalinya aku membuatnya nangis karena keputusasaanku. Jangan tanya betapa aku benci diriku karena itu.
Untuk semua yang telah ia korbankan untukku, dan aku membalasnya dengan menyakiti hatinya. Bagaimana aku bisa menyatakan hal itu, sementara aku tahu bahwa aku nggak mungkin lagi bisa hidup tanpa dirinya.
Saat ini, aku masih homesick. Aku masih sangat merindukan teman-temanku. Aku masih merindukan suasana dan kehangatan persahabatan yang kumiliki bersama mereka. Tapi aku harus kuat, seperti yang diminta suamiku.
Geschrieben in Allgemein | 13 Kommentare »
Eine Überraschung!
22.2.2007 von admin.
Heute Nachmittag habe ich ein Paket bekommen…von meinem Bär. Ich hatte keine Idee was er hat gekauft, und es war wirklich eine Überraschung: ein Multizerkleinerer!
Multizerkleiner? Ich denke er ist ja genau ein Küchenmachine! Ich möchte immer einen Küchenmachine zu haben!
Na, vielen Dank, mein Küschelbär!
Ja, ja, muss ich Deutsch wieder lernen.
Geschrieben in Allgemein | 1 Kommentar »
