Homesick
Akhirnya aku mengalaminya. Sangat parah.
Mungkin selama ini aku sudah merasakannya, namun aku pendam dalam-dalam, sampai akhirnya kemarin aku nggak bisa menahannya lagi.
Aku menangis, dan membuat suamiku pun nangis. Itu yang paling menyakitkan hatiku, melihatnya mengurung diri di kamar mandi, nangis, dan keluar dengan mata yang merah. Aku nggak ingat lagi apa yang sudah bibirku ucapkan, yang membuatnya merasa gagal membuatku bahagia.
Aku bahagia, mungkin nggak sepenuhnya. Tapi aku tahu, aku bahagia bersamanya. Dia adalah duniaku. Tapi di sisi lain, aku kehilangan duniaku yang dulu. Aku punya (bahkan membentuk) keluarga baru, sekaligus ‘kehilangan’ keluargaku. Aku mendapat beberapa teman baru, tapi aku ‘kehilangan’ teman-temanku.
Ini yang bagiku merupakan hal terberat. Tidak memiliki teman-teman yang pernah kumiliki. Ya, di sini aku punya cukup banyak teman (walau kebanyakan merupakan teman Micha), tapi aku tidak merasakan kehangatan dari mereka.
Kemarin aku benar-benar merasa out of group, saat beberapa teman main ke rumah untuk ber-BBQ. Aku merasa bahwa aku tidak seharusnya menjadi bagian dari mereka. Aku nggak merasa nyaman bersama mereka.
Aku ingin kembali bersama teman-temanku. Dengan mereka aku merasa nyaman, aku bisa menjadi diriku sepenuhnya. Aku bisa gila dengan cara yang mereka mengerti, tapi tidak dimengerti oleh teman-teman di sini.
Kemarin aku menangis di dapur, saat yang lain ada di teras. Di saat itu, aku merasa berada di titik terendah dalam hidupku. Aku ingin lari untuk pulang ke rumah Papa dan Mama. Aku ingin dipeluk mereka lagi. Aku ingin meringkuk dan menangis. Aku ingin mendengar candaan teman-temanku lagi.
Aku merasa begitu terpuruk dan sempat terpikir bagaimana mungkin aku dan Micha terus bersama, karena kami memilki dunia yang berbeda. Aku merasa tempatku bukan di sini, dan Micha pun tidak merasa kerasan di tempatku.
Aku benci diriku saat kata-kata itu terucapkan di depan suamiku. Ini kedua kalinya aku membuatnya nangis karena keputusasaanku. Jangan tanya betapa aku benci diriku karena itu.
Untuk semua yang telah ia korbankan untukku, dan aku membalasnya dengan menyakiti hatinya. Bagaimana aku bisa menyatakan hal itu, sementara aku tahu bahwa aku nggak mungkin lagi bisa hidup tanpa dirinya.
Saat ini, aku masih homesick. Aku masih sangat merindukan teman-temanku. Aku masih merindukan suasana dan kehangatan persahabatan yang kumiliki bersama mereka. Tapi aku harus kuat, seperti yang diminta suamiku.
10.4.2007 bei 09:30
3 + 9 ya, Jo? Sama dengan 12 dong…
*peyuk2 Joan*
10.4.2007 bei 09:52
someday
gue pengin ngerasain homesick
kangen maen monopoli di teras (.net)
kangen makan lumpia basah
kangen jalan kaki sepanjang dago
tapi sekarang, ya semua masih mimpi
malah kangen pengin bisa keluar negeri hehe
tabah ya jeng
10.4.2007 bei 10:06
*peyuk2 Jowan*
aku ngerti banget perasaan begitu..
kadang2 perasaan itu bisa dateng, tapi sebentar kemudian hilang.
kalo dulu temen mamaku pernah bilang, masa2 sma itu adl waktu yang tepat untuk pindah (kalo memang mau pindah), karena biasanya kalo udah lebih dewasa lagi.. susah untuk bisa bertahan di negara lain.
eh itu anti spam nya ngga ngerti
10.4.2007 bei 10:52
Wah… kok hilang. hehehe…
Eh.. mesti njawab pertanyaan dulu ternyata.
Joannnnn.. Joan jangan bersedih yaaaa… hihihi… sering-seringlah arisan
*ngiklan*
Hihihi… semoga Jowan cepat berbahagia, bersama Micha terchayank dan teman-teman baru. Tapi pulang ke Indo yang cepet yaaaa… *pengennya sih naek brem-brem bareng joan, dan perang majalah. hihihii.
10.4.2007 bei 14:19
Bitte addieren Sie’ 0 und 10 artine opo pak manteb?
homsik memang sak ya jo!
semoga tetap tabah jo
10.4.2007 bei 14:37
Aghh! Kok post nya error???? Aku tulis ulang lagi deh:
Haiya… bicara tentang Homesick, aku jadi ingat sama PRT aku yang minta pulang kemarin. Tapi akhirnya dia ga jadi pulang, katanya sih karena dia sendiri yang mutusin mau kerja.
The moral of the story is~~~
Semua hal pasi ada rintangan
Nanti sekali-sekali kan Jo pasti ada kembali ke Indo kan? Nanti baru melepas rindu o!
Um… Kan Joan yang mutusin buat ikut Micha kan? Jadi Joan harus tetap PeDe dan Tabah ya
PS: I am sure that semua teman2 Joan dan juga ortu Joan bakal tetap sayang ma Joan walaupun Jo tinggal agak jauh dari mereka
Semangat! En pursuit of happiness only can be done by yourself!
BIG warm HUgs,
Lin.
11.4.2007 bei 04:36
Sabar Yo..
*pats Yo*
11.4.2007 bei 07:53
*sedih*
Keep on smiling ya tante..
11.4.2007 bei 08:00
*peluk2 Joan*
11.4.2007 bei 12:43
sing sabar
12.4.2007 bei 02:57
Joann *hugz*
makasih ya kartuposnya *halah*
*hugz Joan lagi*
yang sabar yah.. tabah tabah…
12.4.2007 bei 05:23
Dooh, kok komen Ambu ga kemuat?
Ga ngerti basa Sunda kali blog-nya ya?
*nulis lagi ..*
Hihi.. Pokoknya, peyuk-peyuk Jo…
24.4.2007 bei 11:04
cepet pulang ke bandung ya…nanti traktir aku