Archive für Februar 2007

Eine Überraschung!

Heute Nachmittag habe ich ein Paket bekommen…von meinem Bär. Ich hatte keine Idee was er hat gekauft, und es war wirklich eine Überraschung: ein Multizerkleinerer!

Multizerkleiner? Ich denke er ist ja genau ein Küchenmachine! Ich möchte immer einen Küchenmachine zu haben!

Na, vielen Dank, mein Küschelbär!
Ja, ja, muss ich Deutsch wieder lernen.

Kena batunya…

Kalau bicara tentang “rendah hati”, itu sama sekali bukan kualitas diri yang aku punya. Aku tipe orang yang gampang jadi tinggi hati. Kalaupun aku bilang, “Ah, aku nggak bisa…”, itu bukan karena aku rendah hati, tapi justru karena rendah diri, hehehe.

Beberapa hari yang lalu, aku kena batunya. Selama ini, aku cukup terbuai dengan kemampuan Bahasa Jermanku. Lakiku terus muji, dia selalu bilang kalau aku berbakat di bahasa. Para mertuaku juga muji, kalau aku cepat sekali belajar. Hal ini membuatku terlena. Ditambah lagi, kalau aku bertemu atau bertelepon dengan mantan teman-teman sekelasku pas di Inlingua Ulm, aku yang jadi tukang koreksi…, padahal aku cuma 1 bulan ikut kelas bahasa, sementara mereka mulai lebih dulu dari aku dan sampai kini pun masih belajar. Hal ini juga dibangga-banggakan lakiku.

Yah, lalu sewaktu aku di Auländerbehörde juga, petugasnya bilang kalau aku nggak perlu lagi ikut kelas bahasa karena sudah nyerocos dalam Bahasa Jerman. Tapi aku ngotot, karena tanpa sertifikat, kemungkinan bekerja dengan baik itu cukup rendah. Lalu aku pun mendatangi sekolah-sekolah bahasa yang ada di kota kami.

Respon dari mereka sama saja, membuat kepalaku jadi gede. Dari hasil wawancara (tes dalam bentuk wawancara), aku selalu bagus. Dan saat tes teori di Volkhochschule (sekolah tinggi), aku masuk kelas 4 (dari 6 kelas). Jelas banget, ini membuat aku sombong, tapi sayangnya…aku nggak nyadar, sampai akhirnya lakiku pun ‘meledak’ juga.

Dia ngeluarin kritik. Dia bilang kalau kemampuan bahasaku jauh dari bagus, kalau mau kerja di sini. Dia bilang, cara pelafalanku sering membingungkan.

Wah, aku langsung down. Sedih banget, dan rasa percaya diriku langsung drop. Aku langsung merasa kalau aku SAMA SEKALI nggak bisa.
Aneh ya? Aku selalu ekstrim. Terlalu percaya diri, atau sama sekali nggak percaya diri.
Nggak ngerti juga kenapa bisa gitu. Kenapa begitu sulit buatku untuk menjejakkan kaki di tanah.

Yah, keesokan harinya, aku harus ikut tes lagi, kali ini di sekolah yang lain. Dengan berbekal rasa nggak percaya diri. Aku jadi nggak nyerocos lagi pas tes wawancara, dan saat tes teori…aku lebih mikir karena ya merasa benar-benar bahwa aku ini tolol.
Karena Frau Izeli sibuk, jadi hasilnya baru keluar besoknya. Lewat telepon, ia mengabarkan kalau hasil tesku bagus. Dari 50 poin untuk nilai sempurna, aku berhasil mendapatkan 49 poin. Ditotal dengan wawancara, dia menilai, aku bisa duduk langsung di kelas 5.

Rasanya aneh… Justru di saat aku merasa nggak bisa, aku malah bisa jadi lebih baik. Mungkin benar kata bokap dulu, kalau merasa bisa, justru hasilnya malah jelek.
Nyokap juga selalu bilang, kalau kita harus selalu mawas diri. Semuanya bener, walaupun mungkin aku nggak akan pernah berubah. Aku seorang yang tidak terlalu menghargai kemampuan sendiri, sekaligus orang yang congkak. Tapi syukurnya, aku dikelilingi oleh orang-orang yang kritis (sekaligus menumbuhkan rasa percaya diriku). Dulu ada bokap. Sekarang ada Micha dan bokap, hehehe…

Yah, mulai tanggal 22 Februari, aku masuk sekolah lagi. Hore!

Back to homepage.

Finally!

At last, after so many months wondering why our website cannot be seen, Micha has found our that we haven’t hit the “publish button”, hehehe….
Didn’t go to the discotheque this night, Rachma said that there would be no DJ for this weekend. Also because we heard nothing from Irma. She told me last week that she would come to our town to go for a “crazy night” together, also with her daughter who is just arrived from Siberia last Thursday. But it’s just fine, because I am also not in a good mood to go somewhere today, unless to shop with Micha.

Got our package from my parents last night. My mother said that the package was misdelivered, that’s why it took soooo long. I really wonder, how could they mistaken Germany with France?
Anyway, we have so much Indonesian gewürze (forgot what is it in English, and too lazy to look up at the dictionary, hehehe). Would like to eat Rendang as soon as possible. Hmmm, yummy…

|