Sie befinden sich aktuell in den Archiven des Blogs Yoan’s Babbles für Mai, 2007.
- Allgemein (12)
Archive für Mai 2007
Ke München ah…
21.5.2007 von admin.
Kamis tanggal 10 kemarin, pagi-pagi Micha udah berangkat ke München buat dua hari. Aku sih udah siap mental semalam tanpa dia, orang udah ‘latihan’ seminggu sebelumnya, pas dia dua malam kemping bareng teman-teman cowoknya.
Jam 3 sorean, dia nelepon. Dia nanya gitu, aku mau dibeliin kue apa. Lah, aku jelas bingung lah, ngapain nanya orang kita jauhan gitu. Eh, ternyata dia nekad pulang dan dalam tempo setengah jam udah sampai rumah, katanya. Lho? Lho?
Pas sampai rumah, dia pun langsung minta aku masukkin baju-bajuku dan perlengkapanku ke tas karena dia mau aku ikut ke München. Kangen istri, kali ya? Akhirnya ya setelah dia berpuas diri bersantai sebentar di sofa baru kami yang warnanya merah itu, kami pun berangkat ke München.
Begitu transfer kamar (dari perusahaan kan dia dibayarinnya kamar single, ya karena dia mau bininya ikut ya apgret lah ke kamar double, cuma nambah 30 € untungnya), kami pun langsung naik S-Bahn buat ketemuan sama dua orang rekan kerjanya di pusat kota.
Kami pun pergi makan malam di sebuah restoran tua (tapi modern dan rame banget). Dibangunnya tuh tahun 1829, para pelayannya pakai baju khas daerah Bayer gitu: Dirndl. Sempat kepikir sih, buat kerja di situ biar aku bisa pakai Dirndl gratis, mengingat kalau beli ya harganya mahal.
![]()
Di restoran ini disediakan peta kota dan kartu pos gratis. Bisa ditebak dong, aku udah pasti ngambil, hehehe.
Habis puas makan, kami pergi jalan-jalan di pusat kota. Sekitar jam 9 malam gitu, tapi hari masih cukup terang, walaupun banyak toko yang sudah tutup. Tapi jalanannya masih tetap ramai sama orang yang hilir-mudik. Banyak juga musisi jalanan, Micha malah sempat beli 1 CD blues tapi dengan bahasa Bayer yang alamak aneh itu. Musisinya bernama DD Beck, udah tua sih, tapi eksentrik dan main gitarnya memang jago. Untungnya jalan bareng cowok, mereka bisa makan terus, jadinya ya sambil jalan, masih sempat-sempatnya ngemil es krim Häagen-Dazs, hehehe. Buset dah, tuh es krim harganya dua kali lipat dari es krim lokal, tapi memang enak sih…dan bikin ngantuk.
A Big Girl In A Big City
Setelah mengawali hari dengan sarapan yang luar biasa mengenyangkannya itu (ada salmon! Ada bacon! Wah, pokoknya lengkap banget deh), aku pun berpisah dari Micha. Dia dan para koleganya harus kerja, sementara aku dengan bekal tiket S-Bahn sehari penuh, ya keliling München seorang diri. Lumayan juga, aku mulai dari jam 08:30, jadi ya masih sepiiiii banget. Toko-toko juga masih belum pada buka, gereja juga masih belum dibuka buat umum (cuma buat misa doang).
Tapi ya itu, berbekal kamera dan peta kota gratisan, aku pun mulai jalan-jalan pelan. Mungkin gara-gara perlengkapan itu, aku dikira turis (lah, tampang aja udah Asia gitu, sok nggak merasa orang asing, hehehe) sampai dideketin sama cowok yang nyapa aku pakai Bahasa Inggris. Eits, sorry…aku jawab pakai Bahasa Indonesia Jerman dong, sampai dia kaget sendiri dan senang biarpun aku bilang bahwa aku nggak bisa bahasa daerah setempat (kecuali buat bilang “Nggak, aku nggak ngambil roti” dan “Daag!”). Langsung deh, dia pakai acara membajak aku pergi ke gereja kecil yang tadinya aku ragu buat masuk (mengingat aku udah berencana kunjungan wisata ke beberapa gereja lain yang lebih gede dan terkenal). Untungnya dia harus pergi ngantor, jadi dia cuma bisa sebentar aja nemenin aku keliling dan ngejelasin beberapa hal. Dia bisa nemenin lagi sih, katanya, tapi pas jam istirahat makan siang. Hmmm…no way lah. Biarpun aku bandel dan banyak orang bilang kalau aku ini tukang flirt, tapi kan aku tahu kalau di jari manisku udah terlingkar cincin dengan nama Micha. *wink-wink*
Jadi ya aku lagi-lagi sendirian. Tapi memang itu mauku. Aku merasa lebih senang untuk mengeksplor München sendirian. Bergandengan tangan dengan Micha tentunya lebih bagus, tapi tanpa itu opsi sendirian adalah yang paling oke.
Karena memang masih pada tutup (gereja St. Michael malah semua pintunya tertutup. Huh!), aku pun melancong belanja baju, hehehe. Lumayan deh, walaupun bisa beli di HDH, tapi kan tetap aja ada keasyikan tersendiri pas belanja di kota lain. Lagian kan sekalian buang waktu karena rencanaku, aku pengen nonton jam dengan boneka bergerak (kayak di Plaza Senayan itu, lho) yang ada di Neues Rathaus. Pertunjukan itu hanya ada pada jam 11, 12, dan 17 (kalau pas winter time sih cuma jam 12 doang).
Jam 11 kurang, aku udah balik ke jalan. Dan ya ampun…! Jalanan rame amat! Huhuhu! Gila aja, turis pada numplek. Parahnya, semua pada numplek di depan Neues Rathaus! Tadinya kupikir jam 11 itu aman, soalnya dari prospek turis yang aku baca, bakalan ada tur dalam kota dengan tujuan Rathaus itu pas jam 12. Tapi ya itu, aku nggak ingat kalau ada tur yang lainnya. Rese banget deh. Turis-turis Amerika dan Australia sih oke, tapi yang dari RRC itu lho. Gandengnya tiada tara. Aku sampai protes ke sepasang entah kekasih entah bukan. Lah, berdiri di belakangku, mereka berdua (berdiri bersebelahan) ngobrolnya keras banget, padahal kan aku mau merekam pas bonekanya bergerak. Males amat, punya rekaman tapi isinya suara mereka. Aku sengaja negur pakai Bahasa Jerman, biarpun mereka nggak ngerti juga yang penting kan kelihatan dari tampangku yang minta mereka kalau ngobrol mbok ya volumenya dikecilin, hehehe.
Anyway, keren lho, nggak kalah deh sama yang di PS. Jadi ingat, pas pengalaman di PS, teeny me sempat takjub sampai tak mampu berkata-kata. Sama Neues Rathaus ya nggak sampai segitunya, tapi tetap aja kagum, soalnya kan dibangunnya tahun 1920-an!
Setelah boneka berhenti berdansa, aku ngebut ke Gereja St. Peter, gereja tertua di München. Walaupun ditulis di dinding gereja bahwa gereja itu mulai dibangun di abad ke-12, tapi ada yang bilang mulai dibangunnya itu dari abad ke-11. Pas masuk gereja, pas ada misa. Karena merasa bakal mengganggu kalau aku ambil gambar (dan juga menghindari rasa bersalah karena nggak ikut misa), aku langsung pergi ke menara gereja. Katanya sih, dari menara ini kita bisa melihat pemandangan kota München. Dengan membayar 1,50 €, aku pun mulai menaiki menara tertinggi di München. Di tengah jalan sempat nyesal juga sih mengingat itu anak tangga tua dan kecil kayaknya kok nggak ada habis-habisnya. Tapi begitu sampai di atas, benar aja…indah! Wah, langsung bikin foto panorama deh, biar ntar Micha yang ngegabungin.
Tujuan berikutnya adalah Dallmayr, buat beliin suami tercintah cokelat isi champagne (tapi jadi tergoda buat beli manisan mangga, manisan cranberries, dan kacang macadamia berlapis cokelat buat diri sendiri, hehehe) plus teh buat Mutti. Wah, nggak nyangka, ternyata toko ini juga pusat wisata, kirain cuma di Bandung aja para turis nyerbu toko makanan.
Lapar, haus, dan capek. Kakiku pun melangkah ke Tokyo Sushi Bar. Wah, langsung ngampung deh. Maklum aja, seumur-umur di Jerman, baru sekali doang makan
sushi, pas di Stuttgart. Tapi kali ini, aku ambil menu all you can eat. Sebelnya, dijatah gitu, dihitungnya per jam! Tapi nggak apa-apa sih, tarifnya lumayan murah: 10,99 € per jam. Nyam-nyam-nyam sampai nggak kerasa aku udah ngabisin… Ah, itung sendiri deh!
Keinginan buat beli jus segar di pasar juga sirna, begitu lihat para turis berjubel di situ. Keinginan keliling museum mainan pun dibatalkan karena antriannya panjang banget. Para remaja Australia kayaknya nggak punya museum semacam ini di negaranya. Jadi ya…keliling tanpa tujuan yang jelas dan ‘nyasar’ ke berbagai tempat yang ternyata memang ada di peta, kayak National Theater, Schatzkammer, dll.
Pas lagi jalan-jalan gitu, sempat-sempatnya ada cowok lokal yang nawarin diri motret aku. Ya aku iyakan, maklum deh…kan
banci kamera belum ada foto aku di München selain satu buah yang diambil Micha malam sebelumnya. Nggak kerasa, udah jam 14:30. Aku pun ngebut ke stasiun S-Bahn karena Micha bilang kami harus pulang jam 15:30.
Hampir dua minggu udah berlalu. Yang ada sekarang cuma kenangan, kebokekan, dan juga lima helai kartu pos untuk dibagikan (lagi). Ada yang mau dikirimin kartu posnya?
Geschrieben in Allgemein | 14 Kommentare »
Geschützt: Sehari Tanpamu.
5.5.2007 von admin.
Geschrieben in Allgemein | Auch die Kommentare sind durch das Passwort geschützt.